![]() |
Foto: Dok. Pribadi |
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Len nathlon na Aksara Rayya.
I welcome you to Aksara Rayya.
Selamat datang di ruang baca dan belajar literasi saya, Nenden Rikma, bersama si putri semata wayang, si kecil Rayya. Ruang ini menjadi pengingat saya untuk terus belajar tentang diri sendiri, banyak hal terkait manusia, kehidupan dan dunianya.
Lahir di Bandung 39 tahun lalu dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil di bidang pendidikan dan kebudayaan membuat saya terbiasa dengan literatur. Keduanya memiliki pengaruh besar, khususnya dari keluarga Mama yang tidak hanya berada di kalangan pendidik, tetapi juga seniman juga birokrat.
Sementara dari Papa, saya banyak belajar menulis prosa dan puisi karena kentalnya darah seni di keluarganya. Tidak bisa dilepaskan peran mereka juga yang membuatku gemar menulis dan membaca segala jenis bacaan sejak usia 6 tahun, sebab saya memulai sekolah dasar di usia 5 tahun.
Awal kecintaan dengan literasi dan literatur
"Alah bisa karena biasa" mungkin salah satu sebab saya tertarik dengan buku di usia dini. Beragam buku dalam berbagai bahasa tersedia di rumah. Buku-buku milik kakek seringkali berbahasa Inggris, Jepang, Belanda, Jerman dan Perancis, sedangkan milik kedua orangtuaku mayoritas berbahasa Indonesia dan Sunda.
Majalah, komik, novel, kumpulan cerpen dan puisi, esai politik bahkan buku sejarah bebas untuk aku nikmati. Salah satu koleksi kakek yang menjadi komik kesukaanku dulu adalah Maya Si Lebah Madu, sebuah versi komik dari dongeng Jerman karya Waldemar Bonsels.
Kakek sering bercerita bahwa menguasai bahasa asing membuat kakek bisa menunjukkan seni tradisional Sunda di mancanegara dan membuatnya melanglang buana. Pertunjukan demi pertunjukan Gending Karesmen bisa dikenal dan dinikmati oleh masyarakat dunia.
Terkesima dengan cerita-cerita kakek dan para muridnya yang sangat fasih berbahasa Sunda, padahal mereka adalah orang Eropa, memotivasiku untuk banyak membaca. Ditambah lagi dengan Papa yang sangat senang menulis di berbagai kolom koran, saya semakin bersemangat membaca dan menulis.
Pada usia 10 tahun, saya menuntaskan buku Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. Kedua orang tua dan kakek membuka tangannya untuk kami berdiskusi, meski sesekali mendapat tentangan dari Nenek, istri pertama Kakek, yang merupakan seorang pemuka agama.
Kami terbiasa untuk berdiskusi dan kebiasaan inilah yang membuatku tertarik bahkan jatuh cinta pada literatur dan literasi. Dengan begitu keluargaku memiliki perpaduan yang menarik antara agama, pendidikan, politik dan seni. Karenanya mereka mendukung saja keputusanku memilih Bahasa dan Sastra Inggris ketika berkuliah.
![]() |
Foto: Dokumentasi Pribadi |
Literatur dan Literasi Mengantarkanku Menjadi Dosen
Banyak orang memaklumi profesiku sebagai seorang dosen karena salah satu latar belakang keluargaku adalah pendidik. Namun sebenarnya saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang pendidik apapun itu namanya dan di tingkat manapun.
Qodarullah, memang rupanya ini salah satu jalan terbaik menurut Allah Taala. Kecintaanku pada ilmu mengantarkanku menjadi seorang guru taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan atas. Sepuluh tahun terakhirku sebagai pendidik malah berstatus dosen di program studi Sastra Inggris yang mengampu mata kuliah Susastra.
Sampai sekarang pun rasanya memang tidak bisa berlepas dari profesi itu,meski tanpa perlu menambah embel-embel dosen atau gelar akademik. Itu sebabnya, teman-teman akan banyak menemukan kritik sastra dan opini terkait seluk beluk dunia manusia dan literasi di laman blog ini.
Beberapa karib malah menyebut saya memiliki "jiwa dosen melekat sampai akhir". Mungkin juga benar karena saya masih berdiskusi dengan banyak teman mahasiswa, dosen dan pegiat literasi soal isu-isu kontemporer dan karya-karya yang memuat human interests.
Beralih Profesi Menjadi Istri dan Ibu Purna Waktu
Setelah mengundurkan diri dari dunia pendidikan tinggi dan menjadi ibu rumah tangga, saya merasa ada sedikit kehilangan. Khususnya masa-masa ketika saya bisa berdiskusi bersama rekan-rekan mahasiswa baik di kelas maupun di luar.
Menulis dan membaca sekarang dinikmati dengan cara yang lebih santai sebab tidak lagi sembari menyiapkannya sebagai bahan ajar di kelas. Meski begitu, gagasan-gagasan yang muncul selama dan setelah membaca tidak bisa diabaikan.
Terlebih lagi saya harus berpindah domisili dan menjadi perantau hersama si kecil di Kalimantan yang membuat saya merasa harus meluapkan segala pemikiran. Blog kemudian menjadi sarana saya menulis.
![]() |
Foto: Dokumentasi Pribadi |
Isi Rak Aksara Rayya
Bagi teman-teman yang baru mampir di laman blog ini, saya ingin mengenalkan isi dari rak Aksara Rayya alias labelnya. Pemberian label ini untuk memudahkan kategori tulisan, meski sebenarnya saya kadang kebingungan untuk memberikan label.
Cerpen dan Cerbung berisikan karya prosa yang ditulis dengan tema dan genre bebas. Soshum atau sosiohumaniora mencakup semua isu yang terjadi baik di dunia nyata maupun refleksinya dalam karya sastra. Literasi adalah informasi terkait literasi dan karya-karya yang bisa diperlakukan sebagai living books.
Review tentunya berisikan artikel yang membahas ulasan berbagai jenis karya seperti buku, film, dan sejenisnya. Tagar Rayya Bertanya adalah tempat saya menyampaikan gagasan yang diperoleh dari pertanyaan-pertanyaan Rayya tentang segala hal.
Tokoh berisikan ulasan atau opini saya terkait tokoh-tokoh dunia, khususnya di bidang literasi. Ekologi berisikan opini dan kritik yang berkaitan dengan isu-isu lingkungan di lingkup nasional dan internasional.
Read Aloud berisikan artikel yang membahas segala hal tentang buku dan membacakan nyaring. ODOP atau One Day One Post adalah karya yang ditulis di masa perekrutan calon anggota komunitas ODOP.
Dengan lebih kurang sepuluh jenis bagian ini, saya berharap teman-teman pembaca dapat mendapatkan manfaatnya. Saya juga memohon maaf karena ketidaksempurnaan dalam penyampaian di laman itu, karenanya saya berharap juga teman-teman pembaca dapat memberi masukan.
Kembali Berdaya sebagai Ibu Tunggal
Sejak resmi menjadi seorang ibu tunggal di pertengahan tahun 2024, saya kembali bergiat dalam berbagai aktivitas literasi dan pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga. Bersama komunitas dan lembaga non-pemerintah baik dalam dan luar negeri, saya mengasah kemampuan dan berbagi pengetahuan dengan banyak ibu dan perempuan.
Semoga para pembaca laman ini mendapat banyak manfaat dan kebaikan. Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar